24 November, 2008

Matinya seorang syahid (Wallahualam)

Tiada kata yang terucap melainkan kalimat takbir, Allahu Akbar, atas kondisi
jenasah ketiga syuhada Bali . Betapa tidak, ketiga syuhada tersebut sangat
jelas menampakkan tanda-tanda sebagai syahid seperti yang biasa ditemui di
kancah peperangan, meski mereka 'tidak sedang berperang' melawan musuh
Islam.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Kantor Berita Islam Muslimdaily.net
mendapat ijin dari pihak keluarga, yang diwakili oleh Bp. Ali Fauzi, untuk
mempublikasikan photo dua mujahid Bali yakni Amrozi dan Ust. Mukhlas. Bp Ali
Fauzi berpesan agar photo ini disebarluaskan untuk memberikan bukti nyata
atas misteri dan polemik yang terjadi ke atas Mujahid Bali, terutama Syuhada
Tenggulun, terkait status mereka, apakah mati syahid atau tidak. Disamping
itu memberikan hikmah nyata kepada seluruh kaum Muslimin bahwa perjuangan
Islam yang mereka lakukan benar-benar ikhlas untuk tingginya kalimat Allah,
dan bukan sekedar untuk aksi pamer.

Sebagaimana syuhada yang gugur dalam medan jihad, photo kedua syuhada
Tenggulun terlihat tersenyum dengan barisan gigi yang terlihat rapi. Apalagi
yang terjadi dengan Amrozi. Senyuman khas "The Smiling Bomber" yang seiring
dengan kedua mata yang terbuka, terlihat seakan-akan bertemu dengan sesuatu
yang membuat kagum. Mungkin sepasang bidadari yang menyambut ramah.

Kondisi tak jauh berbeda terjadi dengan jenasah Ust. Mukhlas. Ulama yang
jago berorasi ini memperlihatkan senyuman dengan mata yang juga terbuka.
Wajah bersih pun menjadi pertanda yang lain. Wajah bersih yang juga dimiliki
oleh sang "Mujahid Hacker," Imam Samudera alias Abdul Azis. Imam
memperlihatkan wajah tampan dan bersih, persis dengan kondisi Ust. Mukhlas.

Disamping analisis photo ketiga Mujahid Bali tersebut, keterangan dari
lapangan makin memperkuat bukti bahwa ketiga pelaku aksi jihad tersebut
adalah para Mujahidin, mereka telah memiliki niat yang tulus dan menemui
kematian sebagai seorang syuhada. Berikut adalah bukti dan persaksian dari
lapangan.

1. Salah satu pelayat yang kebetulan ikut hadir di kediaman Hj.
Tariyem adalah Ust. Abdul Rachim Ba'asyir. Menyaksikan bahwa ketika keranda
jenasah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang
menyebar ke seluruh ruangan. Kejadian ini sempat membuat keheranan para
pelayat, karena didalam ruangan yang sempit tersebut udara sangat pengap dan
pengunjung berjubel dalam satu ruangan. Bila merupakan wangi dari minyak
wangi, tak akan mampu mengalahkan bau badan para pengunjung dan tidak akan
dapat memberikan aroma dengan kadar wangi yang sama." Allahu Akbar. Itu
bukan bau minyak wangi. Bukan. Tapi bau wangi dari asy syahid," kata beliau.

2. Selain itu, masih menurut Ust, Abdul Rachim, ketika kain penutup
wajah dari Ust. Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat
menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang
masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Ust. Mukhlas merasakan
kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat
beliau.

3. Sebagaimana dilansir oleh beberapa media nasional, seperti
detik.com, nampak jelas terlihat fenomena datangnya tiga burung hitam di
atas kediaman syuhada. Ketiga burung ini jelas bukan burung Gagak seperti
yang banyak diberitakan di media, karena memiliki leher yang panjang. Mereka
datang begitu saja berputar-putar selama kurang lebih tujuh menit, dan
kemudian pergi berpencar. Dua burung hitam terbang ke arah Timur, mereka
merepresentasikan diterimanya amalan jihad Ust Mukhlas dan Amrozi, dan satu
burung hitam terbang ke Barat, sebagai pertanda syahid atas diri 'Mujahid
Hacker' Imam Samudera. Fenomena datangnya burung hitam ini sempat membuat
suasana haru dengan teriakan takbir para pelayat.

4. Seperti penuturan adik kandung Imam Samudera, Lulu Jamaludin,
kakaknya menampakkan keanehan ketika akan dimasukkan dalam liang lahat. Bau
wangi juga tercium dari jenasah Imam. Selain itu luka bekas tembakan peluru
tajam terus menerus mengalirkan darah segar. Aliran darah ini keluar seperti
yang terjadi dengan seseorang yang masih hidup ketika terluka. Masih menurut
Lulu juga, wajah kakaknya lebih bersih dan tampan dari biasanya.

Kabar terakhir baru saja diterima oleh salah satu kru muslimdaily.net.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tiga hari setelah pemakaman Amrozi dan
Ust. Mukhlas, keluarga Hj. Tariyem meminta beberapa orang untuk menjaga
makam. Hal ini dilakukan untuk menghindari dan menjaga hal-hal yang tidak
diinginkan. Beberapa diantara mereka yang ikut jaga adalah Sumarno, Baror,
Rosyidin, Mashudi dan beberapa santri pondok Al Islam Tenggulun Lamongan.
Mereka mengatakan mencium bau wangi keluar dari dalam kubur (makam). Bau
wangi yang sama saat mereka pertama kali membuka kain penutup jenasah
syuhada. Namun, bau wangi ini bukan seperti bau dari minyak wangi yang biasa
mereka pakai atau dipakai oleh orang kebanyakan.

Jelas sudah keterangan yang diberikan Allah s.w.t. lewat kebesaran-Nya.
Meski banyak pihak yang membantah, memberikan suara sumbang, dan menggalang
opini massa untuk memojokkan status para Mujahid Bali , serta membuat makar
melalui kaki tangan aparat pemerintah, namun Allah berkehendak lain. Dan
siapakah sebaik-baik pembuat makar ? (far/MD)

No comments:

Post a Comment